PELAIHARI- Dunia pendidikan Indonesia kembali tercoreng oleh ulah kalangan guru sendiri. Termutakhir, proses belajar mengajar di SMP Negeri 2 Panyipatan, Kabupaten Tanahlaut, Kalimantan Selatan, terganggu. Bahkan, ada pelajaran yang tertunda pengajarannya.
Penyebabnya, bukan sarana prasarana yang terbatas. Bukan pula karena kekurangan guru. Tetapi, karena tujuh dari 11 guru yang ada di sekolah itu memilih berjalan-jalan ke Jakarta dan Bandung. Empat guru yang tersisa, akhirnya kewalahan harus mengajar sekitar 150 siswa di enam kelas yang berbeda.
Informasi yang diperoleh BPost, tujuh guru yang meninggalkan tugas tanpa izin Dinas Pendidikan (Disdik) setempat itu adalah kepala sekolah (kepsek) dan enam guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan seorang pegawai honor. Mereka "terbang" sejak Sabtu (2/11/2013).
Rencananya, mereka baru pulang pada Rabu (6/11/2013) malam. Yang tersisa adalah wakil kepsek dan tiga guru lain. Jadi proses belajar mengajar terganggu selama tiga hari (Sabtu, Senin, Rabu)
"Sebagai orangtua siswa, saya tidak mempermasalahkan bila keberangkatan itu berkaitan dengan tugas dinas atau untuk meningkatkan kualitas para guru. Namun kalau untuk jalan-jalan, kan mengorbankan siswa. Informasinya, selain ke Jakarta juga ke Bandung, ke Trans Studio," ujar salah satu orangtua siswa yang namanya ada di redaksi, Senin (4/11/2013).
Kabarnya, tindakan serupa terjadi pada tahun lalu. "Tahun lalu juga begitu, bahkan hanya menyisakan dua guru. Kini kok bisa terulang lagi, bahkan sampai lima hari," ucap orangtua siswa lainnya.
Selama ini, lanjut dia, banyak guru di SMPN 2 Panyimpatan yang berasal dari Pelaihari sehingga proses belajar mengajar tidak berjalan maksimal. Kepseknya pun dari Batibati. Dia kabarnya tidak setiap hari datang ke sekolah. Hanya sehari hingga tiga hari, tiap minggunya.
Saat dikonfirmasi melalui ponsel, Kepala SMPN 2 Panyimpatan Sahlan Nor tidak mau memberi penjelasan. Dia langsung mematikan telepon genggamnya. Pesan singkat (SMS) juga tidak dibalas.
Namun, saat dihubungi petugas Disdik, dia mengaku sedang berada di Jakarta, untuk menghadiri acara pernikahan kerabat. Sahlan lantas meminta maaf, karena tidak meminta izin ke Disdik sebelum berangkat. Alasannya, tidak tahu harus melakukan itu jika ke luar daerah.
Kepala Disdik, H Sihabudin Chalid menegaskan tidak pernah memberi izin. "Nanti kami panggil kepseknya untuk dimintai keterangan. Jelas, mereka keluar daerah dan kami tidak pernah memberikan izin. Mereka juga pernah melapor," ujarnya.
Sihabudin mengatakan, akan ada sanksi bagi mereka jika meninggalkan proses belajar mengajar di sekolah, tanpa disertai izin. Tindakan itu tidak bisa dibenarkan karena berimbas pada tidak maksimalnya proses belajar mengajar."Seharusnya ada izin resmi bila sekolah mengirim guru ke luar daerah. Itu pun untuk kepentingan sekolah bukan pribadi," tegas dia.
Wakil Bupati Tala H Sukamta mengatakan hal serupa. "Kalau tidak ada izin, nanti setelah datang akan kami panggil untuk mempertanggungjawabkan tindakannya," ucapnya.
Anda sedang membaca artikel tentang
Guru Plesiran ke Jakarta Siswa SMP di Tanah Laut Telantar
Dengan url
https://beritakaltime.blogspot.com/2013/11/guru-plesiran-ke-jakarta-siswa-smp-di.html
Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya
Guru Plesiran ke Jakarta Siswa SMP di Tanah Laut Telantar
namun jangan lupa untuk meletakkan link
Guru Plesiran ke Jakarta Siswa SMP di Tanah Laut Telantar
sebagai sumbernya
0 komentar:
Posting Komentar